Minggu, 21 Agustus 2011

Prevensi Untuk OCD

Prevensi untuk gangguan Obsesif Kompulsif dapat berupa terapi maupun pengobatan (secara biologis). Sedangkan untuk prevensi primer, tidak ada cara yang dapat dilakukan untuk mencegah  gangguan obsesif-kompulsif. Namun, pengobatan sesegera mungkin dapat membantu mencegah OCD semakin memburuk. Berikut ini adalah beberapa terapi serta pengobatan yang dapat dilakukan untuk prevensi OCD, diantaranya :
A.      Terapi Gangguan Obsesif Kompulsif
Obsesif kompulsif merupakan salah satu masalah psikologi yang paling sulit ditangani. Studi tindak lanjut yang berlangsung selama 40 tahun menunjukkan bahwa hanya dua puluh persen yang sembuh total (Skoog & Skoog, 1999). Walau berbagai macam intervensi dapat mengakibatkan perbaikan signifikan, kecenderungan obsesif-kompulsif biasanya tetap ada hingga satu titik tertentu, walaupun dalam control yang lebih besar dan dengan penampakan yang lebih sedikit dalam gaya hidup pasien (White & Cole, 1990). Berikut beberapa terapi gangguan obsesif-kompulsif, yaitu:
1.         Terapi Psikoanalisa
Terapi Psikoanalisa bertujuan untuk mengangkat represi dan memberi jalan pada pasien untuk menghadapi hal yang benar-benar ditakutkannya. Karena pikiran yang mengganggu dan perilaku kompulsif melindungi ego dari konflik yang ditekan, serta keduanya merupakan target yang sulit untuk intervensi terapeutik, dan prosedur psikoanalisa serta psikodinamika terkait tidak efektif untuk menangani gangguan ini (Esman,1989).
2.         Pendekatan Behavioral: Pemaparan dan Pencegahan Ritual (ERP - Exposure and Ritual Prevention)
Salah satu perkembangan yang paling efektif untuk pengobatan Obsesif-Compulsive Disorder (OCD) adalah CBT. Tujuan utama dari Mindfulness Berbasis CBT adalah belajar untuk menerima non-judgmentally pengalaman psikologis yang tidak nyaman. Dari perspektif kesadaran, banyak tekanan psikologis kita adalah hasil dari mencoba untuk mengontrol dan menghilangkan ketidaknyamanan pikiran yang tidak diinginkan, perasaan, sensasi, dan mendesak. Dengan kata lain, ketidaknyamanan kita tidak masalah - upaya kami untuk mengendalikan dan menghilangkan ketidaknyamanan kami adalah masalah -. Untuk individu dengan OCD atau kondisi terkait berbasis kecemasan, tujuan akhir dari kesadaran adalah untuk mengembangkan kemampuan untuk lebih rela mengalami pikiran tidak nyaman, perasaan, sensasi, dan mendesak, tanpa menanggapi dengan kompulsi, perilaku menghindar, mencari jaminan atau ritual mental.
Setelah protokol CBT terstruktur, klien secara bertahap berhadapan dengan tantangan semua gejalanya, dan belajar hal yang baru, metode lebih produktif untuk mengatasi rasa cemas. Seiring waktu, individu menjadi peka terhadap situasi yang sebelumnya memprovokasi kecemasan dan pikiran, obsesi dan kompulsi dieliminasi, atau secara signifikan mengurangi frekuensi dan besarnya.

3.         Terapi Perilaku Rasional Emotif
Terapi perilaku rasional emotif memabntu pasien menghapuskan keyakinan bahwa segala sesuatu mutlak harus berjalan seperti yang mereka inginkan atau bahwa segala tindakan yang mereka lakukan harus mutlak memberikan hasil sempurna. Terapi kognitif dari Beck juga dapat bermanfaat (Van Oppen dkk., 1995). Dalam pendekatan ini, pasien didorong untuk menguji kekuatan mereka bahwa sesuatu yang mengerikan akan terjadi jika mereka tidak melakukan ritual kompulsif.


A.       Pendekatan Biologi
Farmakologis merupakan pengobatan lini pertama, terdiri dari 5-HT reuptake inhibitor, seperti SSRI (fluoxetine, fluvoxamine, sertraline, paroxetine, citalopram, escitalopram), dan clomipramine (Anafranil), antidepresan trisiklik [TCA] dengan 5-HT dan TL reuptake penghambatan. Alternatif mungkin termasuk venlafaxine, sebuah norepinefrin serotonin reuptake inhibitor (SNRI). Semua ini biasanya digunakan untuk mengobati OCD, meskipun tidak semua telah menerima indikasi dari Food and Drug Administration (FDA) untuk gangguan ini.
Obat-obatan yang meningkatkan level serotonin, seperti SSRI dan beberapa tricyclic, merupakan penanganan biologis yang paling sering diberikan kepada pasien dengan gangguan obsesif kompulsif. Beberapa studi menemukan antidepresan tricyclic kurang efektif dibandingkan ERP (Balkom dkk., 1994), dan suatu studi terhadap antidepresan menunjukkan perbaikan dalam ritual kompulsif hanya pada pasien OCD yang juga menderita depresi (Marks dkk., 1980). Dalam studi lainnya, manfaat antidepresan tricyclic bagi OCD ternyata hanya berjangka pendek; penghentian obat ini memicu 90% tingkat kekambuhan, jauh lebih tinggi dibandingkan pada pencegahan respon.
Penelitian menunjukkan bahwa penghambat pengembalian serotonin, seperti fluoxetin (Prozac), menghasilkan perbaikan lebih besar bagi pasien OCD disbanding placebo atau ticyclic (Kronig dkk., 1999). Namun demikian, keuntungan yang dihasilkan kecil dan simptom-simptom akan terjadi kembali jika pemakaian obat dihentikan.
Beberapa studi pengobatan menunjukkan peran yang mungkin untuk norepinefrin (NE) dalam kasus OCD. Sebuah subset dari pasien dilaporkan menunjukkan perbaikan klinis yang lebih besar dengan kombinasi 5-HT dan inhibisi reuptake TL dibandingkan dengan pengobatan dengan SSRI saja. Hal ini termasuk pasien yang diobati dengan clomipramine dan pasien yang pengobatan SSRI ditambah dengan inhibitor reuptake NE, seperti desipramin.

0 komentar:

Posting Komentar